by Rani Aldes Saribanon
"Uh, apaan nih? Pake parfum kok gila-gilaan gini?" ujarku. Tak berani menegur -- karena toh tak akan bisa diubah, parfumnya sudah terlanjur menempel, tak mungkin disedot lagi kan? -- aku bermigrasi ke barisan belakang. Ah, ada hal konyol lainnya. Dua anak laki-laki yang tentunya lebih senang disebut "cowok" di sampingku saling melempar bungkus cokelat. Ih, norak! Sebagai penyempurna, pagi penuh hal menyebalkan ini ditambah dengan hal yang lebih mengesalkan lagi dengan kenyataan bahwa tiba-tiba bungkus cokelat itu bersarang di tempatku duduk.
"Eh, sori, gak sengaja," salah satu dari mereka berkata sopan sambil memungut benda kecil tadi.
"Jangan buang sampah sembarangan!" ketus kujawab.
"Iya, sori ya..." sambil tersenyum kali ini ia berkata. Alamak! Senyumnya itu loh... Terpesona, keluarlah "ga apa-apa" dari mulutku.
"Eh, sori, gak sengaja," salah satu dari mereka berkata sopan sambil memungut benda kecil tadi.
"Jangan buang sampah sembarangan!" ketus kujawab.
"Iya, sori ya..." sambil tersenyum kali ini ia berkata. Alamak! Senyumnya itu loh... Terpesona, keluarlah "ga apa-apa" dari mulutku.

anda kurang beruntung, komentarna ge hilap deui. kumaha atuh..ha.ha.ha..Tak ingat betapa emosionalnya diriku membaca tulisan itu. Tapi emosi bukan berarti benci.
BalasHapussok weh des tuluykeun. tuluykeun weh des. des tuluykeun weh. sok tuluykeun!
YAh,, setelah sekian lama, aku baru mengetahui cerita yang sebenarnya... sial.
BalasHapussugan teh cerita jng "nu mana" ieu teh..
Capek dah..